Pembelajaran dari Kasus Thom Haye: Pentingnya Berpikir Kritis!

Media beberapa waktu lalu gempar dengan isu Como yang secara terang-terangan menolak Thom Haye. Penolakan ini sempat membuat netizen marah hingga perwakilan klub memberikan klarifikasi. Apa pembelajaran di baliknya?

Bacaan Lainnya

Isu Gabung Como

Ketika statusnya bukan lagi pemain Heerenveen, muncul desas-desus bahwa Thom Haye akan merapat ke Como 1907 yang baru promosi ke Serie A. Alasannya singkat saja. Como terafiliasi dengan orang Indonesia, dan hal ini bisa dimanfaatkan Haye untuk berkarir di sana.

Sejumlah netizen Indonesia bahkan menjadi mak comblang yang ikut menjodohkan Haye dengan Como. Beberapa dari mereka meminta Como merekrut Haye dengan alasan saling membantu antar sesama bangsa Indonesia, mengingat pemilik Como adalah orang Indonesia.

Sayangnya, isu itu ditepis oleh pihak klub melalui perwakilannya, Mirwan Suharso yang juga orang Indonesia. Mirwan menyatakan bahwa Thom Haye bukan pemain yang cocok untuk Como. Kalaupun transfer itu terwujud, Haye cuma akan menjadi pemain lapis ketiga.

Sontak, pernyataan Mirwan memantik reaksi keras dari netizen. Beberapa dari mereka menyerang akun media sosial Como dengan berbagai hujatan. Ada yang sampai menyumpahi klub milik anak perusahaan Djarum Group itu terdegradasi lagi ke Serie B.

Klarifikasi

Atas reaksi keras para netizen, Mirwan Suharso pada akhirnya memberikan klarifikasi. Maksud Suharso Haye bakal masuk lapis ketiga adalah karena Como sudah punya banyak gelandang. Jadi praktis, tidak ada tempat lagi buat seorang gelandang tambahan.

Kemudian soal kecocokan bermain. Suharso sudah menjelaskan bahwa Haye adalah tipe quarterback. Artinya, Haye adalah pemain yang mengandalkan umpan-umpan panjang akurat. Tipenya adalah pembangun serangan dari belakang, dan cenderung kurang agresif.

Semua atribut Haye adalah keterbalikan dari apa yang sedang dicari Como. Klub asuhan Cesc Fabregas itu justru sedang membutuhkan gelandang cepat, eksplosif dan agresif. Haye sama sekali bukan tipikal pemain demikian, dan karena itulah ia tidak cocok untuk Como.

Pembelajaran

Kasus Haye dan Como seharusnya menjadi pembelajaran buat netizen Indonesia agar lebih cermat menilai informasi. Banyak dari netizen yang menghujat Como karena dinilai sombong tidak mau merekrut Thom Haye. Tidak sedikit pula yang berburuk sangka menyebut Como menilai Thom Haye sebagai pemain jelek.

Faktanya, sedari awal mengeluarkan pernyataan resmi lewat perwakilannya, Como tidak pernah menyebut kalau Haye jelek. Mirwan Suharso juga menjelaskan secara detail mengapa Haye tidak cocok dengan Como. Bukan permainannya yang jelek, tetapi tipikal Haye memang bukan tipikal pemain yang sedang mereka cari.

Apapun itu, kasus Haye dan Como ini adalah suatu pembelajaran, supaya netizen Indonesia lebih bijak bersosial media. Ini adalah satu bukti kalau netizen Indonesia sejatinya pemalas dan enggan menyimak detail sebab-akibat suatu peristiwa atau kejadian.

Yah, semoga setelah Haye, kasus hujat-menghujat di sosial media bisa berkurang jumlahnya. Kasus ini adalah pembelajaran buat para netizen agar bersikap lebih dewasa di internet. Terlebih, Indonesia terkenal akan keramahannya di dunia nyata.

Pos terkait